Rabu, 30 Desember 2009

Riset Pemasaran

Riset Pemasaran

Marketing Research

  • Adalah suatu pendekatan yang ditempuh secara sistematis dan objektif untuk mendapatkan data/ informasi yang akan digunakan untuk proses pengambilan keputusan bidang pemasaran ( Kotler, Kinear, Taylor)

Elemen Penting Riset Pemasaran

  • Merupakan kegiatan yang sistematis, tercermin dalam tahap perencanaan, pengumpulan, analisis & pelaporan.
  • Bersifat objektif, tidak bias
  • Merupakan penerapan metoda ilmiah dalam pemasaran

Research berbeda dengan Marketing Intelligent

Marketing Intelligent suatu prosedur dan sumber daya yang digunakan oleh manajer pemasaran untuk memperoleh informasi harian mengenai apa yang sedang terjadi di lingkungan perusahaan.

  • Output : Happening Data

Bentuk-Bentuk Aktivitas Marketing Intelligent

  • Melakukan pengamatan langsung / tidak langsung
  • Memanfaatkan tenaga penjual, distributor dan pengecer sebagai mata & telinga perusahaan
  • Melakukan “penyusupan” ke pesaing
  • Membeli informasi dari Research Company

Faktor Pendorong Munculnya Kebutuhan Riset Pemasaran

  • Perluasan jangkauan pasar
  • Peralihan orientasi dari Need Pembeli ke Want Pembeli
  • Peralihan dari Persaingan Harga ke Persaingan Non Harga

Lingkup Riset Pemasaran

Marketing Management Process

Analisis Penentuan Perancangan Perancangan Melakukan

Peluang Target Strategi Program Marketing Efforts

Marketing Research

Riset Proses Analisis Peluang Pasar

  • Riset Potensi Pasar
  • Riset Perilaku Konsumen
  • Riset Benchmark Industri

Riset Penentuan Target Pasar

  • Riset Segmentasi
  • Riset Penentuan Target Pasar

Riset Proses Perancangan Strategi

  • Riset Penentuan Keunggulan Perusahaan
  • Riset Perumusan Positioning
  • Riset Pengembangan dan Pengujian Produk
  • Riset Pengukuran Daur Hidup Produk & Pemilihan Strategi yang Tepat
  • Riset Pengukuran Market Share & Pemilihan Strategi yang Tepat

Riset Proses Perencanaan Program Pemasaran

  • Riset Pengujian Brand & Packaging
  • Riset Pengukuran Ekuitas Merek
  • Riset Penentuan Harga
  • Riset Perumusan Strategi Harga
  • Riset Pemilihan & Perancangan Saluran Distribusi
  • Riset Media & Bauran Promosi
  • Riset Pengukuran Effektivitas Bauran Promosi
  • Riset Pengukuran Effektivitas Iklan

Riset Proses “Marketing Efforts”

  • Riset Pengukuran Kepuasan Pelanggan
  • Riset Pengukuran Loyalitas Pelanggan
  • Riset Pengukuran & Analisis Churn
  • Riset Perancangan Customer Relationship Management (CRM)
  • Riset Perancangan Marketing Decision Support System
  • Riset Perancangan Marketing Information System
Namun, ada baiknya bagi kita untuk memahami, apa sebenarnya yang dilakukan oleh riset pemasaran, mengapa hal ini diperlukan, benefit apa yang kita peroleh, dan hasil seperti apa yang ingin kita raih dengan riset tersebut. Untuk itu, ada beberapa hal yang dapat kita jadikan sebagai acuan, yaitu:

1. Riset pemasaran perlu dipahami sebagai sebuah input. Riset bukanlah hasil akhir yang kita inginkan, data riset justru berfungsi sebagai input yang akan kita olah lebih lanjut sesuai dengan tujuan dan kebutuhan kita. Contohnya, apabila kita melakukan riset pemasaran sebelum meluncurkan produk baru, riset bukanlah penentu apakah kita akan memasarkan produk tersebut atau tidak. Riset merupakan input yang nantinya akan kita olah menjadi strategi pemasaran.
2. Sebagai sebuah input riset akan memberikan output. Output ini yang membuat riset menjadi hal yang penting dan dibutuhkan, yaitu informasi. Informasi dari riset dapat berupa data respons konsumen terhadap produk, profil konsumen baik dari segi demografi maupun psikografi, persepsi konsumen terhadap merek dan produk, serta banyak lagi hal yang lain.

Pada dasarnya, informasi inilah yang seringkali kita tanggapi secara emosional, hal ini sebenarnya dapat dipahami, karena secara psikologis hasil riset terhadap produk kita seringkali seperti memaksa kita untuk bercermin saat kondisi kita tidak dalam keadaan prima.

Padahal, dalam tahap selanjutnya atau tahap ke tiga, kita akan memperoleh benefit dari informasi yang telah kita miliki. Dengan bahan informasi yang lengkap dan valid dari data yang kita miliki kita dapat merumuskan policy yang akan kita ambil. Policy ini adalah dasar dari strategi pemasaran yang kita miliki. Dengan data yang lengkap, kita tidak hanya terpaku pada dua pilihan saja, seperti "go" or "no go" atau "maintain" or "expand". Karena apabila kita memutuskan untuk "go" umpamanya, kita sekaligus dapat merumuskan strategi "go with what, how and why".

Sebagai contoh, saat kita melakukan tes produk dan produk tersebut tidak disukai konsumen. Dengan informasi yang lengkap kita dapat mengetahui alasan mengapa konsumen tidak menyukainya dan apa yang sebenarnya diinginkan oleh konsumen, sehingga kita dapat merumuskan dengan apa kita dapat mempengaruhi konsumen tersebut untuk berubah.

Singkatnya, dengan informasi yang kita miliki kita dapat mengambil policy sesuai dengan result atau hasil yang kita inginkan. Dari benefit yang telah kita capai, kita akan merasakan impact atau dampaknya. Impact tersebut dapat berupa maintain dari market share yang telah kita miliki, atau improve profit. Kondisi tersebut bergantung dari policy yang kita pilih untuk kita lakukan.

Dari sini jelas bahwa tujuan pemanfaatan riset pemasaran bukan sekadar untuk mengevaluasi tim pemasar dan perancang produk yang telah bekerja siang malam, namun lebih dari itu, riset pemasaran memiliki manfaat untuk membimbing kita untuk lebih mendekat kepada hasil akhir yang ingin kita capai.




Pustaka :

1.http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/01/07/23/73376/memanfaatkan-data-riset-pemasaran
2.http://74.125.155.132/search?q=cache:1jRFoCG2zd0J:www.stttelkom.ac.id/staf/AAS/Modul%2520Riset%2520Pemasaran/Pengantar%2520Riset%2520Pemasaran.ppt+riset+pemasaran+adalah&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id
3.http://www.jokosusilo.com/2008/01/31/3-langkah-taktis-lakukan-riset-pasar/

Citra Produk

Citra berperan untuk menimbulkan preferensi untuk melakukan pembelian. Citra perusahaan juga akan mempengaruhi citra produk dan selanjutnya akan mempengaruhi preferensi untuk melakukan pembelian.
Pembentukan citra dipengaruhi oleh familiaritas terhadap produk dan perusahaan yang bersangkutan. Familiaritas dipengaruhi oleh banyaknya informasi yang diterima oleh konsumen yang bersumber dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain dan media massa.

Strategi pemasaran diharapkan mampu meningkatkan minat beli dari para konsumen, banyak sekali orang yang menggunakan produk kecantikan, dengan alasan ingin berpenampilan supaya lebih menarik. Penilaian secara umum dikalangan para mahasiswi atau kaum perempuan terhadap suatu citra produk kecantikan adalah dilihat dari segi reputasi merek, harga produk, kualitas dari produk dan kemasan yang ditampilkan, sehingga dari keempat sisi tersebut faktor yang penting dalam mempengaruhi perilaku konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli.

Menurut koran tempo, citra barang-barang produksi Indonesia terancam tercoreng di kalangan negara-negara Uni Eropa akibat maraknya praktek pemindahan barang secara ilegal dalam kegiatan ekspor (transhipment).Sebaiknya Indonesia dapat lebih memperbaiki citra produk di kalangan dunia.

Iklan juga dapat memperbaiki citra produk yang telah tercoreng. Seperti contoh, ada produk biskuit yang sudah sangat dikenal dan memiliki banyak konsumen, namun dikabarkan produk tersebut mengandung racun dan ada pula konsumen yang dilarikan ke rumah sakit. Setelah dilakukan perbaikan, produsen dari produk tersebut melakukan iklan besar-besaran untuk memperbaiki citra produknya yang telah tercoreng agar para konsumen dapat percaya bahwa produk itu kini sudah aman untuk di konsumsi. Iklan ternyata sangat berpengaruh untuk perbaikan citra produk.

Citra merupakan suatu hal yang penting diperhatikan oleh perusahaan, apabila perusahaan memiliki citra yang baik maka produk dari perusahaan tersebut akan dapat pula diterima dengan baik dipasaran. Demikian halnya dengan citra yang dimiliki oleh produk yang dihasilkan apabila produk sebelumnya memiliki citra yang baik maka pada peluncuran produk berikutnya kemungkinan besar akan mendapat sambutan yang baik pula bagi konsumen.

Salah satu strategi pemasaran yang memerlukan pengetahuan mengenai perilaku konsumen adalah iklan, karena objek dari iklan adalah konsumen. Banyak unsur dalam iklan yang menjadi perhatian pemasar saat merancang suatu iklan, diantaranya adalah penggunaan bintang iklan. Perusahaan yang melakukan promosi melalui iklan harus memilih bintang iklan yang tepat dan dianggap dapat mewakili citra produk yang diinginkan perusahaan.

Pemilihan bintang iklan ini juga harus disesuaikan dengan karakter dari produk yang diiklankan karena pada kenyataannya penggunaan endorser tidak selalu berhasil karena tidak sesuai dengan citra produk yang diiklankan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh tipe dan karakteristik bintang iklan terhadap citra merek serta karakteristik apa dari ketiga tipe bintang iklan tersebut yang paling berpengaruh terhadap citra merek pada beberapa produk yang termasuk ke dalam klasifikasi barang konsumsi.

Mengangkat Citra Produk Ekspor Berkelas Melalui Penyelenggaraan Trade Expo Indonesia

Trade Expo Indonesia (TEI) alias Pameran Produk Ekspor 2007 yang merupakan ajang pertemuan antara produsen barang dan jasa nasional dengan para pembeli luar negeri akan digelar di Jakarta Int'l Expo-Kemayoran Jakarta pada tanggal 23 hingga 27 Oktober 2007 mendatang, di rencanakan akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kepala BPEN, Bachrul Chairi mengatakan bahwa TEI 2007 bertujuan untuk menciptakan wahana dalam mempromosikan produk-produk ekspor non migas Indonesia yang berkualitas, bernilai tambah dan berdaya saing tinggi. Pameran yang selenggarakan tiap tahun sejak tahun 1985 kondang dengan nama PPE, kini TEI mulai tahun 2006 hingga 2010 mengusung tema besar "Serving Global Market" disamping tema khusus untuk TEI ke-22 tahun ini adalah "Innovative Design, Local Value Contemporary Spirit".

Pada penyelenggaraan kali ini, akan dikemas dengan semangat diversifikasi produk yang mencerminkan potensi produk Indonesia, dalam rangka menunjang 10+10+3, yaitu meningkatkan daya saing ekspor 10 produk utama, 10 produk potensial dan 3 produk jasa, kilah Bachrul. Produk utama terdiri dari ; udang, kopi, minyak sawit, kakao, karet, tekstil, alas kaki dan barang elektronik. Kemudian yang termasuk produk potensial adalah ; produk kerajinan, produk ikan, medical herbs, kulit dan produk kulit, makanan olahan serta perhiasan. Sedangkan 3 produk jasa adalah Teknologi Informasi, Tenaga kerja dan Desain.

Ajang promosi skala Internasional dengan menggunakan total areal sebesar 55,6 ribu meter persegi terdiri dari 7 hall dan satu kavling open space ini, diharapkan akan lebih marak dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Produk-produk perhiasan, aksesoris, herbal, peralatan kantor, kulit dan produk kulit, rempah-rempah, spa, bahan bangunan, keramik, hortikultura dan produk plastik akan menempati Hall A. Di Hall B, akan ditampilkan produk-produk mebel, peralatan dapur dan rumah tangga lainnya. Hall C akan diisi dengan produk-produk elektronika, alas kaki, peralatan medis, peralatan olahraga, dan produk kimia. Hall D1 dimana merupakan anjungan produk-produk utama, akan diisi oleh produk-produk Indonesia yang sudah dikenal diberbagai negara, seperti minyak sawit, karet dan produk karet, tekstil dan produk tekstil, udang dan karet. Hall D2 menampilkan produk kreatif, sedangkan Hall E akan memajang produk perikanan, kopi, kakao dan produk makanan dan minuman.

TEI 2007 dipersiapkan untuk menghimpun 1.500 perusahaan peserta dan diperkirakan akan dihadiri sebanyak 4.000 importir dari 110 negara, jumlah pengunjung ditaksir akan mencapai 15.000 orang. Untuk para tamu importir dari mancanegara, selama pameran berlangsung akan diselenggarakan forum bisnis bertema Trade, Tourism & Investment, dengan harapan untuk menambah pemahaman tentang produk Indonesia, juga memperkenalkan pariwisata dan kesempatan investasi. Selama pameran juga akan dipertunjukkan kesenian dari berbagai daerah.

Menurut pendapat saya citra produk sangatlah penting untuk kesuksesan suatu produk. Citra produk yang baik juga sangat berpengaruh terhadap daya beli konsumen untuk mengkonsumsi produk tersebut, semakin baik kualitas dari suatu produk maka secara otomatis produk tersebut akan mendapat citra produk yang baik pula.




Pustaka :
1.http://www.nafed.go.id/bindo/mediacenter.php?ctrl=info&idberita=78
2.http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-s2-2004-lisayannov-1744
3.http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/manajemen/article/view/2890
4.http://www.tempointeractive.com/hg/ekbis/2007/01/03/brk,20070103-90586,id.html

Senin, 28 Desember 2009

Persepsi Konsumen

Persepsi Konsumen

Persepsi konsumen adalah proses dimana seseorang mengorganisir dan
mengartikan kesan dari panca indera dalam tujuan untuk memberi arti dalam
lingkungan mereka (Robbins, 1998, p.90). Persepsi konsumen ini sangat penting
dipelajari karena perilaku konsumen didasarkan oleh persepsi mereka tentang apa
itu kenyataan dan bukan kenyataan itu sendiri.

Persepsi akan sesuatu yang berasal dari interaksi antara dua jenis faktor
(Shiffman & Kanuk, 1997, p.146):
1. Stimulus Factors
Karakteristik obyek secara fisik seperti ukuran, warna, berat atau bentuk.
Tampilan suatu produk baik kemasan maupun karakteristiknya akan mampu
menciptakan suatu rangsangan pada indra manusia, sehingga mampu
menciptakan sesuatu persepsi mengenai produk yang dilihatnya.
2. Individual Factors
Karakteristik individu yang termasuk di dalamnya tidak hanya proses panca
indera tetapi juga pengalaman yang serupa dan dorongan utama serta harapan
dari individu itu sendiri.

Persepsi merupakan suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah
dimiliki untuk mendeteksi, mengumpulkan, dan mengintepretasikan stimulus yang
diterima oleh alat indera menjadi arti tertentu yang bermakna. Dalam persepsi,
seseorang juga melalui proses seleksi. Seleksi adalah proses seseorang memilih
dan menentukan marketing stimuli karena tiap individu adalah unik dalam
kebutuhan, keinginan dan pengalaman, sikap dan karakter pribadi masing-masing
orang. Dalam seleksi ada proses yang disebut selective perception concept.

Adapun selective perception concept, yaitu (Shiffman & Kanuk, 2000, p.35):
1. Selective Exposure
Konsumen secara efektif mencari pesan menemukan kesenangan atau simpati
mereka secara aktif menghindari kesakitan atau ancaman disisi lainnya.
Mereka secara efektif membuka diri mereka kepada iklan-iklan yang menentramkan hati
mereka mengenai kebijaksanaan tentang keputusan pembeliannya.
2. Selective Attention
Konsumen mengadakan transaksi pemilihan yang bagus dengan tujuan
perhatian mereka berikan pada rangsangan komersial. Mereka mempunyai
kesadaran yang tinggi terhadap rangsangan yang sesuai dengan minat dan
kebutuhan mereka. Jadi konsumen mungkin untuk mengingat iklan untuk produk
yang dapat memuaskan kebutuhan mereka dan mengabaikan yang tidak mereka
butuhkan.
3. Perceptual Defense
Konsumen secara bawah sadar menyaring rangsangan yang mereka temukan
ancaman psikologikal, meskipun telah terdapat pembukaan. Jadi ancaman atau
sebaliknya rangsangan yang merusak mungkin lebih sedikit diterima secara sadar
daripada rangsangan netral pada level pembukaan yang sama.
4. Perceptual Blocking
Konsumen melindungi diri mereka dari rangsangan-rangsangan yang mereka
anggap negatif dan mempunyai pengaruh buruk bagi diri mereka.
Persepsi tidak hanya tergantung pada sifat-sifat rangsangan fisik, tapi juga
pada pengalaman dan sikap sekarang dari individu. Pengalaman dapat diperoleh
dari semua perbuatannya di masa lampau atau dapat pula dipelajari, sebab dengan
belajar seseorang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman
yang berbeda-beda, akan membentuk suatu pandangan yang berbeda sehingga
menciptakan proses pengamatan dalam perilaku pembelian yang berbeda pula.
Makin sedikit pengalaman dalam perilaku pembelian, makin terbatas pula luasan
interpretasinya.

Persepsi ini juga ada hubungannya antara rangsangan dengan
medan yang mengelilingi dan kondisi dalam diri seseorang (Kotler, 1997, p.240).
Persepsi dapat dipengaruhi oleh karakter seseorang. Karakter tersebut
dipengaruhi oleh (Robbins, 1998, p.91):
1. Attitudes
Dua individu yang sama, tetapi mengartikan sesuatu yang dilihat itu berbeda
satu dengan yang lain.
2. Motives
Kebutuhan yang tidak terpuaskan yang mendorong individu dan mungkin
memiliki pengaruh yang kuat terhadap persepsi mereka.
3. Interests
Fokus dari perhatian kita sepertinya dipengaruhi oleh minat kita, karena minat
seseorang berbeda satu dengan yang lain. Apa yang diperhatikan oleh
seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda satu dengan yang lain. Apa yang
diperhatikan seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda dari apa yang
dirasakan oleh orang lain.
4. Experiences
Fokus dari karakter individu yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu
seperti minat atau interest individu. Seorang individu merasakan pengalaman
masa lalu pada sesuatu yang individu tersebut hubungkan dengan hal yang
terjadi sekarang.
5. Expectations
Ekspektasi bisa mengubah persepsi individu dimana individu tersebut bisa
melihat apa yang mereka harapkan dari apa yang terjadi sekarang.
Dalam hubungan antara persepsi dan perilaku dapat dilihat dari pendapat Siagian
(1994, p.18) bahwa persepsi seseorang mengenai lingkungannya akan sangat
berpengaruh pada perilaku yang akhirnya akan menentukan faktor-faktor yang
dipandang motivasional (dorongan untuk melakukan sesuatu). Singkatnya motif
mempengaruhi perilaku seseorang dan persepsi menentukan arah perilakunya.
Karena itu perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan
persepsi seseorang.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan persepsi, yaitu
(Schiffman & Kanuk, 1995, p.162):
1. Sensation
Sensation merupakan rangsangan langsung dari organ-organ yang mempunyai
sensor untuk menanggapi rangsangan sederhana tersebut.
2. Absolute Threshold
Adalah tingkatan yang paling rendah dimana seseorang dapat mengalami
sensasi tersebut.
3. Differential Threshold
Merupakan perbedaan kecil yang dapat dideteksi oleh dua rangsangan yang
sangat mirip.

Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen merupakan suatu ilmu yang mempelajari perilaku
individu yang memutuskan untuk membelanjakan sumber daya (waktu, uang,
tenaga, upaya) yang dimilikinya untuk memenuhi atau membeli sesuatu yang
dibutuhkan (Schiffman & Kanuk, 2000, p.5). Wilkie (1994, p.14) mendefinisikan
perilaku konsumen sebagai aktivitas-aktivitas mental, emosional dan fisik, dimana
orang-orang menggunakannya ketika memilih, membeli, menggunakan dan
menghabiskan produk-produk jasa sehingga bisa memuaskan kebutuhan dan
keinginannya.

Variabel-variabel yang terdapat dalam perilaku konsumen adalah sikap
dan persepsi. Sikap menurut Schiffman & Kanuk (2000, p.Glosary-1) adalah suatu
keadaan terpelajar yang mudah terpengaruh untuk berkelakuan dalam suatu cara
yang baik atau tidak baik secara konsisten dengan rasa hormat pada suatu obyek
yang diberikan.

Sedangkan menurut Kotler & Armstrong (1996, p.157), sikap
adalah konsistensi seseorang terhadap evaluasi-evaluasi yang baik atau yang tidak
baik, perasaan, kecenderungan terhadap suatu obyek dan ide.
Schiffman & Kanuk (2000, p.154) mengemukakan perilaku konsumen
yang sangat bervariatif, yaitu :
1. Konsumen mencari resiko (Consumers Seek Information )
Konsumen mencari informasi mengenai produk dan kategori produk
melalui komunikasi kata melalui mulut atau yang biasa disebut dengan word
of mouth, baik dari teman, keluarga, orang lain, tenaga penjual, dan dari media
umum. Mereka menyimpan lebih banyak waktu untuk berpikir tentang pilihan
mereka dan mencari lebih banyak informasi tentang alternatif produk ketika
mereka menghubungkan tingkat resiko yang tinggi dengan pembelian.
2. Konsumen adalah setia terhadap merek (Consumers are Brand Loyal )
Konsumen menghindari resiko dengan tetap setia pada satu merek yang
mana mereka telah terpuaskan daripada membeli merek-merek baru atau
merek-merek yang belum pernah mereka coba. Penerima resiko yang tinggi
mungkin menjadi lebih setia pada merek-merek lama dan mungkin sedikit
untuk membeli produk-produk baru yang diperkenalkan.
3. Konsumen memilih melalui kesan terhadap merek (Consumers Select by
Brand Image )
Ketika konsumen tidak memiliki pengalaman dengan suatu produk,
mereka cenderung untuk “percaya” terhadap suatu merek yang terkenal dan
favorit. Konsumen sering berpikir bahwa merek yang terkenal lebih baik dan
cukup baik sebagai jaminan secara tidak langsung mengenai kualitas yang
dapat dipertanggungjawabkan hasil dan pelayanannya. Usaha promosi
pemasar menambah kualitas yang diterima dari produk-produk mereka dapat
menolong untuk membangun dan menyokong kesan merek yang baik.
4. Konsumen mengandalkan kesan toko (Consumers Rely on Store Image)
Jika konsumen tidak memiliki informasi lain tentang produk, mereka
sering percaya pada penilaian terhadap pembeli barang dagangan dari toko
yang mempunyai nama baik dan bergantung pada merek untuk membuat
keputusan-keputusan yang hati-hati dalam memilih produk untuk dijual
kembali. Kesan toko juga memberi implikasi dari percobaan produk dan
jaminan pelayanan, hak pengembalian dan penyesuaian diri dalam kasus
ketidakpuasan.
5. Konsumen membeli produk yang paling mahal (Consumers Buy The Most
Expensive Model )
Ketika dalam keragu-raguan, konsumen dapat merasa kalau produk yang
paling mahal mungkin yang terbaik dalam hubungannya dengan kualitas, yaitu
mereka menyamakan harga dengan kualitas.
6. Konsumen mencari kepastian (Consumers Seek Reassurance)
Konsumen yang tidak tahu dalam membuat keputusan dalam memilih
produk cenderung untuk mencari kepastian melalui garansi uang kembali,
pemerintah dan hasil tes laboratorium sendiri, dll.
Konsumen mempunyai hubungan dengan sesama manusia dalam wujud
penggunaan yang berbeda antara konsumen pribadi (personal consumers ) dan
konsumen organisasi (organizational consumers).

Konsumen pribadi adalah seorang yang membeli barang dan jasa untuk digunakan sendiri untuk keperluan umah tangga. Konsumen organisasi adalah konsumen yang membeli produk,
peralatan dan jasa dengan tujuan untuk keperluan organisasinya (Schiffman &
Kanuk, 2000, p.Glossary-3). Sedangkan menurut Vogelaar (1992, p.184),
konsumen menggunakan produk atau barang untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginannya.
Konsumen menurut Guiltinan & Paul (1994, p.63-65) tidak dapat
diciptakan oleh suatu perusahaan kecuali saat membeli pertama kali memiliki
keinginan dan kemampuan untuk membeli suatu bentuk atau jenis produk. Untuk
mencapai semua itu perlu cara-cara identifikasi dalam memperbaiki keinginan dan
kemampuan membeli, permintaan utama juga dapat ditingkatkan dari pembeli
potensial menjadi pembeli nyata atau aktual, atau karena pembeli nyata
meningkatkan tingkat penggunaannya.

Faktor utama yang menentukan keinginan untuk membeli suatu bentuk
atau jenis produk menurut Guiltinan & Paul (1994, p.63-65) adalah persepsi
pembeli terhadap kegunaan suatu produk pada satu atau lebih situasi penggunaan.
Meskipun demikian, untuk menentukan mengapa ada beberapa pembeli potensial
tidak menggunakan produk untuk satu atau lebih tujuan, ada beberapa hal spesifik
yang perlu dipertimbangkan:
1. Related Products and Services (Hubungan Produk dan Pelayanan)
Ketika produk dan jasa telah menjadi komoditas, maka kualitas barang dan
jasa tidak dapat lagi dijadikan faktor untuk memenangkan persaingan. Tetapi,
pelayanan prima (service excellence)-lah yang dapat membedakan perusahaan
secara signi•kan dibanding pesaingnya.
2. Usage Problem (Masalah Penggunaan)
Beberapa produk tidak diterima sebagai produk yang berdaya guna yang sama
bagusnya dalam keadaan itu. Ini penting untuk mengidentifikasi situasi-situasi
dimana masalah-masalah yang terjadi dan untuk menentukan jika ada
masalah-masalah yang muncul pada ciri-ciri produk atau kurangnya
pengetahuan tentang penggunaan produk secara benar.
3. Value or Experience (Kesesuaian Nilai atau Pengalaman)
Ketika suatu produk menimbulkan perubahan dalam perilaku pembelian atau
penggunaannya bertentangan dengan pengalaman sebelumnya tingkat
pemakaiannya akan menjadi rendah.
4. Perceived Risk (Resiko yang Diterima)
Keinginan untuk membeli suatu bentuk atau jenis produk akan juga tergantung
pada tipe-tipe resiko yang diterima oleh pembeli potensial. Resiko yang
diterima akan ada ketika pembeli percaya bahwa ada kemungkinan dari
pembuatan keputusan yang tidak baik dan akan menimbulkan konsekuensi
yang signifikan. Ada tipe resiko yang dapat terjadi keika membeli bentuk atau
jenis produk:
a. Economic or financial risks
Resiko ekonomis atau keuangan akan terjadi jika harga beli, biaya
pemeliharaan atau biaya operasinya tinggi.
b. Time or convenience risks
Resiko waktu terjadi jika konsumen mempunyai kesanggupan untuk
menghabiskan banyak waktu dalam menggunakan atau membeli produk.
c. Performance risks
Resiko ini terjadi jika ada kesalahan tampilan dalam suatu produk.
d. Physical risks
Resiko fisik adalah resiko akibat dari penggunaan suatu produk yang
mengancam kesehatan konsumen.
e. Social risks
Resiko sosial terjadi jika pembelian atau penggunaan produk dapat
mempengaruhi kelompok-kelompok referensi.
f. Psychological risks
Resiko psikologis terjadi jika pembelian atau pengunaan produk bisa
mempengaruhi pribadi atau harga diri seseorang.
Dengan mengetahui tipe-tipe resiko yang diterima oleh konsumen,
pemasar dapat membuat program-program pemasaran untuk mengurangi
resiko dan semuanya mempertinggi keinginan untuk membeli.

Minat Beli
Menurut Kotler dan Armstrong (1995, p.282), konsumen melalui lima
tahap dalam proses mengadopsi suatu produk baru :
1. Kesadaran (awareness): konsumen menjadi sadar akan inovasi tetapi
kekurangan informasi tentang inovasi itu
2. Minat (interest): konsumen dirangsang untuk mencari informasi mengenai
inovasi tersebut
3. Evaluasi (evaluation): konsumen mempertimbangkan apakah akan ada
artinya mencoba inovasi itu
4. Percobaan (trial): konsumen mencoba inovasi dalam skala kecil untuk
memperbaiki kesalahan atas nilai inovasi itu
5. Adopsi (adoption): konsumen memutuskan menggunakan inovasi itu
secara teratur dan seutuhnya.
Pada minat, konsumen dirangsang untuk mencari informasi mengenai inovasi.
Seorang konsumen yang mulai tergugah minatnya mungkin akan atau mungkin
tidak akan mencari informasi yang lebih banyak. Jika dorongan untuk
menghimpun informasi itu kuat dapat kita bedakan menjadi dua tingkat, yaitu :
konsumen yang mencari informasi dalam ukuran sedang-sedang saja dan keadaan
demikian disebut perhatian yang meningkat.
Bila konsumen mencari bahan bacaan, menanyakan kepada teman-
temannya dan ikut terlibat dalam berbagai pencarian lainnya, untuk menghimpun
informasi tentang produk, maka dapat dikatakan konsumen aktif mencari
informasi.

Sejauh mana seorang konsumen mencari informasi tergantung pada
kekuatan dorongannya jumlah informasi ketika memulai pencarian, kemudahan
mencari informasi lebih banyak, nilai yang ditempatkannya pada informasi
tambahan, dan kepuasan yang diperolehnya dari pencarian tersebut. Biasanya
tingkat pencarian informasi oleh konsumen makin tinggi sejalan dengan
bergeraknya konsumen dari keputusan yang melibatkan penyelesaian masalah
terbatas ke keputusan dalam penyelesaian masalah-masalah yang besar.
Konsumen dapat memperoleh informasi dari banyak sumber.

Sumber-sumber informasi konsumen menurut Kotler terbagi menjadi 4
kelompok, yaitu :
1. Sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, kenalan).
2. Sumber niaga (periklanan, petugas penjualan, kemasan, dan pameran).
3. Sumber umum (media massa, organisasi konsumen).
4. Sumber pengalaman (pernah mengalami, menguji, mempergunakan
produk). (1995, p. 229)
Sumber-sumber informasi ini memberikan pengaruh yang relatif berbeda-
beda, sesuai dengan jenis produk dan ciri-ciri pembeli.

Tingkatan Ekonomi
Ekonomi atau kelas sosial merupakan sebuah kelompok dalam sebuah
masyarakat yang tersusun. Kelas sosial mempunyai implikasi dalam menentukan
kebutuhan masyarakat karena akan menunjukkan perbedaan dalam pilihan produk
dan merek dari suatu bidang tertentu (Fandi, 2001, p.65).
a. Kelas menengah bawah
Kelompok ini sebagian besar terdiri atas para pekerja halus
(karyawan kantor, pemilik perusahaan kecil) dan sebagian besar pekerja
kasar kelas atas yang melakukan pekerjaan dengan taat. Sering mereka
membeli produk hanya untuk kehormatan. Kebutuhan mereka adalah
rumah yang nyaman yang terletak di tepi kota.
b. Kelas bawah atas
Anggota kelompok ini bekerja, tidak untuk menumpuk kekayaan
walaupun tingkat standar hidup mereka sedikit diatas miskin. Mereka
menampilkan pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian dan digaji
sedikit. Sebagian dari mereka mempunyai tingkat pendidikan rendah,
walaupun secara keuangan mereka hampir disebut miskin. Mereka
berusaha menampilkan citra disiplin diri dan berusaha membenahi diri dan
rumah supaya menjadi rapi dan bersih, kebutuhan mereka adalah perabot
yang biasa-biasa saja.

Merek
Merek merupakan sebuah nama atau simbol seperti logo, merek dagang,
desain kemasan, dan sebagainya yang dibuat untuk membedakan satu produk
dengan produk yang lainnya. Merek dapat juga dijadikan ciri untuk membedakan
satu produk dari produk pesaing. Selain itu, merek yang telah dipatenkan dapat
membuat produk tersebut menjadi lebih terlindungi dari upaya pemalsuan dan
pembajakan. Merek yang memiliki asosiasi merek yang unik dapat dibuat
berdasarkan atribut produk yang unik, nama yang unik, kemasan yang unik
(Rangkuti, 2004, p.14).
American Marketing Association (Kotler, 2002, p. 460) mendefinisikan
merek sebagai nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal
tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari
seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakan dari produk pesaing.
Merek sebenarnya merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan
keistimewaan, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli. Merek – merek terbaik
memberikan jaminan mutu. Akan tetapi, merek lebih dari sekedar simbol.

Menurut Kotler (2002, p.460) merek memiliki enam level pengertian,
antara lain :
1. Atribut, yaitu merek mengingatkan pada atribut-atribut tertentu.
2. Manfaat, yaitu suatu mereka lebih daripada serangkaian atribut.
3. Nilai, yaitu merek juga menyatkan sesuatu tentang nilai produsen.
4. Budaya, yaitu merek juga mewakili budaya tertentu.
5. Kepribadian, yaitu merek juga mencerminkan kepribadian tertentu.
6. Pemakai, yaitu merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau yang
menggunakan produk tersebut.
Suatu merek mempunyai lima komponen (Assael, 1993, p. 393-400):
1. Nama merek (brand name)
Nama merek merupakan indikator inti yang mendasar dari merek, basis untuk
kesadaran maupun usaha-usaha komunikasi. Nama merek bisa menghasilkan
asosiasi-asosiasi yang mampu menggambarkan merek tersebut.
2. Simbol (symbol)
Simbol adalah bagian yang penting dari sebuah merek yang memiliki bentuk
yang unik.
3. Pengemasan (the package)
Kemasan mencakup kegiatan-kgiatan dalam mendesain dan memproduksi
kontainer atau pembungkus untuk suatu produk.
4. Jaminan (the warranty)
Merupakan pernyataan tertulis yang menggambarkan komitmen perusahaan
untuk mengganti atau memperbaiki produk yang rusak atau cacat.
5. Citra merek (brand image)
Citra merek (brand image) merupakan keseluruhan kesan yang terbentuk
dalam benak konsumen oleh karakteristik fisik merek, nama, simbol, kemasan,
dan reputasi untuk jasa.

Menurut Freddy Rangkuti (2004, p.5-6) membangun dan mengembangkan
merek, caranya adalah:
1. Memiliki positioning yang tepat
Merek dapat diposisikan dengan berbagai cara, misalnya dengan
menempatkan posisinya secara spesifik di benak konsumen. Membangun
positioning adalah menempatkan semua aspek brand value (termasuk manfaat
fungsional) secara konsisten sehingga selalu menjadi nomor satu dibenak
konsumen.
2. Memiliki brand value yang tepat
Semakin tepat merek diposisikan di benak konsumen, merek tersebut akan
semakin kompetitif. Untuk mengelola hal tersebut kita perlu mengetahui
brand value. Brand value akan membentuk brand personality.
3. Memiliki konsep yang tepat
Tahap akhir untuk mengkomunikasikan brand value dan positioning yang
tepat kepada konsumen harus didukung oleh konsep yang tepat.
Pengembangan konsep merupakan proses kreatif, karena berbeda dari
positioning, konsep harus dapat terus-menerus berubah sesuai dengan daur
hidup produk yang besangkutan.

Konsep yang baik adalah dapat
mengkomunikasikan semua elemen-elemen brand value dan positioning
yang tepat, sehingga brand image dapat terus-menerus ditingkatkan.
Merek memberikan beberapa manfaat bagi penjual (Kotler, 2002, p.464) :
a. Merek memudahkan penjual memproses pesanan dan menelusuri masalah.
b. Nama merek dan tanda merek penjualan memberikan perlindungan hukum
atas ciri-ciri produk yang unik.
c. Merek memberikan kesempatan kepada penjual untuk menarik pelanggan
yang setia dan menguntungkan. Kesetiaan merek memberikan penjual
perlindungan dari persaingan serta pengendalian yang lebih besar dalam
perencanaan program pemasaran.
d. Merek membantu penjual melakukan segmentasi pasar.
e. Merek yang kuat membantu membangun citra perusahaan, memudahkan
perusahaan meluncurkan merek-merek baru yang mudah diterima oleh para
distributor dan konsumen.
Keuntungan atau manfaat merek bagi pembeli (Basu Swastha, 1984, p.137) :
a. Mempermudah pembeli dalam mengenal barang yang diinginkan.
b. Pembeli dapat mengandalkan keseragaman kualitas barang-barang yang
bermerek.
c. Melindungi konsumen, karena dari merek barang dapat diketahui perusahaan
yang membuatnya.
d. Barang-barang yang bermerek cenderung untuk ditingkatkan kualitasnya,
karena perusahaan yang memiliki merek tersebut akan berusaha
mempertahankan dan meningkatkan nama baik mereknya.
2.4.1. Kesadaran Merek (brand awareness)
Menurut Keller (1998, p. 87) “brand awareness related to strength of the
trace in memory, as reflected by consumer’s to identify the brand under different
conditions”. Kesadaran merek berkaitan dengan kekuatan suatu merek tertentu
untuk diingat konsumen, sebagai refleksi dari kemampuan konsumen untuk
mengidentifikasi merek dalam berbagai situasi berbeda.

Brand awareness (kesadaran merek) didefinisikan oleh Aaker (1997, p.
90) sebagai kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat
kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu.
Kesadaran merek membutuhkan jangkauan kontinum (continum ranging) dari
perasaan yang tidak pasti bahwa merek tertentu dikenal, menjadi keyakinan
bahwa produk tersebut merupakan satu-satunya dalam kelas produk bersangkutan


Pustaka :
  1. http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/hotl/2008/jiunkpe-ns-s1-2008-33402019-9844-sari_roti-chapter2.pdf.
  2. http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&hs=G3v&q=persepsi+konsumen&btnG=Telusuri&meta=cr%3DcountryID&aq=f&oq=
  3. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/ekonomi-manajemen/analisis-posisi-operator-cdma-berdasarkan-persepsi-konsumen-studi-pada-mahasiswa-fakultas-eko

Minggu, 08 November 2009

Motivasi Konsumen

Motivasi Konsumen

Motivasi merupakan dorongan/tenaga pendorong pada diri individu/seseorang untuk melakukan sesuatu guna memenuhi kebutuhannya yang belum terpenuhi.
Secara umum, kebutuhan manusia sebagai individu terbagi menjadi dua, kebutuhan dasar dan kebutuhan perolehan.

No Basic Need (Kebutuhan Dasar) Acquired Need (Kebutuhan Perolehan) :
1 Bersifat fisiologis biogenis Bersifat psikologis psikogenis
2 Makanan, minuman, air, udara, pakaian, perumahan, seks Memperoleh penghargaan diri, martabat, kasih sayang,kekuasan, pengetahuan
3 Disebut kebutuhan primer/motif primer Disebut kebutuhan sekunder/motif sekunder
Semua prilaku individu yang didorong motivasi-motivasi tersebut, dilakukan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Hasil yang diinginkan inilah yang disebut sebagai sasaran.
Pemilihan sasaran , bagi setiap individu berbeda satu sama lain, tergantung beberapa hal yakni,
1. Pengalaman pribadi
2. Kemampuan fisik
3. Norma dan nilai yang berlaku
4. Kemudahan mencapai sasaran

Dan dalam prakteknya, terdapat keterkaitan antara kebutuhan dan sasaran tersebut. Walaupun pada kenyataannya pula, kesadaran orang akan “sasaran” cenderung kurang, isbanding kesadarannya akan “kebutuhan”. Orang cenderung lebih menyadari kebutuhan dasarnya/fisiologis ketimbang kebutuhan perolehan/psikologis.

Sebagai contoh, seorang politisi mungkin tidak menyadari betapa tingginya kebutuhannnya akan “kekuasan”, tapi ia secara rutin aktiv dalam pemilihan jabatan tertentu dalam pemerintahan.
Menurut Kotler dan Amstrong factor factor yang mempengaruhi konsumen adalah factor budaya, sosial, pribadi, dan factor psikologis.

Jenis-jenis Motivasi :
Motivasi positif dan motivasi negatif, motivasi positif adalah proses untuk mencoba mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang kita inginkan dengan cara memberikan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah. Motivasi negatif adalah proses untuk mempengaruhi seseorang agar mau melakukan sesuatu yang kita inginkan tetapi teknik dasar yang digunakan adalah lewat kekuatan ketakutan.
Bukti yang paling dasar terhadap keberhasilan suatu bentuk motivasi adalah hasil yang diperoleh dari pelaksanaan suatu pekerjaan.

Selama ini secara tradisional barang-barang konsumen (consumer goods) sebagai dasar pertimbangan segmentasi pasar yang sangat disukai secara umum adalah berdasar data demografi, tingkat pendapatan dan lokasi konsumen di dalam pasar yang dituju.

Karakteristik konsumen dapat ditinjau dari :
  1. Usia
  2. Jenis kelamin
  3. Agama
  4. Suku bangsa
  5. Pendapatan
  6. Status pernikahan
  7. Pekerjaan
  8. Kesehatan, dll.
Ada 5 tahap dalam konsumen mengambil keputusan untuk membeli, yaitu :
  1. Pengenalan kebutuhan
  2. Pencarian informasi
  3. Evaluasi alternatif
  4. Keputusan pembelian
  5. Pengkonsumsian suatu produk dan perilaku purna beli
Akhir-akhir ini dasar pertimbangan segmentasi terhadap pasar dengan mempergunakan gaya hidup (life style) yang berdasar psikografis menjadi semakin penting bagi produsen. Produsen masa kini tampak sangat memahami makna pemasaran tidak hanya disebabkan konsumen bermaksud memenuhi kebutuhan (needs), tetapi pada masa kini dasar pertimbangan keinginan (wants) yang lebih menentukan keputusan pembelian.

Melihat dengan lebih mendalam kepada berbagai hal yang terkait dengan apa saja yang ada dalam benak pelanggan (customer insight) merupakan usaha serius memahami alam pikir konsumen. Pemahaman gaya hidup konsumen adalah berdasarkan pada perhitungan dan memperhatikan apa yang sebenarnya yang terjadi dan di alami konsumen, serta berbagai pertimbangan mereka untuk mengkonsumsi produk yang kita pasarkan.

Dengan demikian mengenali dan memahami gaya hidup konsumen akan memberikan pertimbangan dalam keputusan strategi pemasaran yang dianggap paling tepat, termasuk merancang produk untuk memenuhi kebutuhan kelompok konsumen tertentu.

Gaya hidup pada dasarnya adalah suatu perilaku yang mencerminkan masalah apa yang sebenarnya yang ada di dalam alam pikir pelanggan yang cenderung berbaur dengan berbagai hal yang terkait dengan masalah emosi dan psikologis konsumen. Menurut Well dan Tigert perilaku konsumen dapat diamati atau diukur dengan sistem AIO (Activities, Interest and Opinion) dalam pengertian: 1). Bagaimanakah mereka mempergunakan waktu dalam kehidupan sehari-hari, 2). Apa saja yang menjadi minat atau apa saja yang ada disekeliling mereka yang dianggap penting dalam kehidupan dan berinteraksi sosial, 3). Bagaimana pendapat atau opini memandang diri sendiri dan terhadap dunia di sekekitar mereka, 4). Karakteristik dasar kelompok konsumen tersebut umumnya dapat didasarkan pada wilayah geografis. Keempat hal tersebut di atas dapat memberikan gambaran gaya hidup secara komprehensif pada suatu kelompok kosumen.

Pendapat ini juga tampak sejalan dengan Plummer yang menekankan kepada 3 (tiga) hal penting yang dapat dipergunakan untuk mengevaluasi gaya hidup konsumen sehari-hari, yaitu: apa yang mereka rasakan, bagaimana sikap dan opini mereka terhadap berbagai fakta kehidupan. Katakan di sini sebagai contoh bagaimana produk mie instan yang saat ini sangat dikenal luas.

Makanan cepat saji dan praktis ini dikemas dalam berbagai bentuk dan dirancang dengan berbagai rasa lokal kedaerahan yang ditujukan pada berbagai segmen pasar dan terkait gaya hidup masyarakat menengah ke bawah, khususnya yang hidup di perkotaan di berbagai wilayah di Indonesia. Produk ini berhasil masuk ke berbagai segmen masyarakat masa kini yang sangat sibuk dan tidak lagi cukup waktu bagi mereka untuk memasak.

Lalu jika kita berbicara tentang gaya hidup konsumen, .ada trend yang sangat mengejutkan di Amerika Serikat akhir-akhir ini, dengan meningkatnya omset bengkel mobil dan menurunya angka penjualan mobil pribadi. Dengan kata lain dapat kita simpulkan bahwa banyak orang yang lebih suka memperbaiki mobil ketimbang membeli yang baru. Dampaknya, semakin sedikit mobil yang berlalu lalang dapat mengurangi emisi karbon dioksida yang dikeluarkan ke udara. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa emisi karbon adalah salah satu perusak lingkungan yang paling utama. Kita sebagai pengguna computer juga bisa berperan dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan. Dengan melakukan sedikit perubahan bukan tidak mungkin, jika dilakukan oleh seluruh pengguna, dampak baiknya tidaklah kecil bagi alam.

Gaya hidup menurut Hair dan McDaniel adalah cara hidup, yang diidentifikasi melalui aktivitas seseorang, minat, dan pendapat seseorang. Penilaian gaya hidup dapat dilakukan melalui analisa psychografi. Psychografi merupakan teknik analisis untuk mengetahui gaya hidup konsumen sehingga dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik gaya hidupnya. Menurut Kasali gaya hidup mencerminkan bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya yang dinyatakan dalam aktivitas-aktivitas, minat dan opini-opininya.

Pendekatan gaya hidup cenderung mengklasifikasikan konsumen berdasarkan variabel-variabel Activity, Interest, Opinion, yaitu aktivitas, interes (minat), dan opini (pandangan-pandangan). Menurut Setiadi sikap tertentu yang dimiliki konsumen terhadap suatu objek tertentu bisa mencerminkan gaya hidupnya. Gaya hidup seseorang bisa juga dilihat dari apa yang disenangi, ataupun pendapatnya mengenai objek tertentu.

Gaya hidup hanyalah salah satu cara mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama kawan-kawannya, ada yang senang menyendiri, ada yang bepergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan aktivitas yang dinamis, dan ada pula yang memiliki dan waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial-keagamaan. Kasali menyatakan bahwa gaya hidup mempengaruhi perilaku seseorang, dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang.


Pustaka :
1. http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=f3daeb3f5adba78ac940110c1de68ec0&jenis=4e732ced3463d06de0ca9a15b6153677&PHPSESSID=68c5260081f09c0f809f837b2c5daae9
2. http://www.pasamankab.go.id/index.php/artikel/48-kepemimpinan/154-gaya-hidup-sebagai-salah-satu-cara-mengelompokkan-konsumen.html
3. http://slockley.wordpress.com/2009/10/23/gaya-hidup-konsumen-hijau/
4. http://one.indoskripsi.com/node/7031
5. http://lecture.brawijaya.ac.id/shinta/files/2009/02/pertemuan-6.ppt.

Minggu, 25 Oktober 2009

Segmentasi Manfaat


Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Segmentasi

Agar pengusaha dapat lebih tepat mengelompokkan konsumen, berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan :
1. Variabel-Variabel Segmentasi
Sebagaimana diketahui bahwa konsumen memiliki berbagai dimensi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan segmentasi pasar. Penggunaan dasar segmentasi yang tepat dan berdaya guna akan lebih dapat menjamin keberhasilan suatu rencana strategis pemasaran. Salah satu dimensi yang dipandang memiliki peranan utama dalam menentukan segmentasi pasar adalah variabel-variabel yang terkandung dalam segmentasi itu sendiri, dan oleh sebab itu perlu dipelajari.




Dalam hubungan ini Kotler (1995) mengklasifikasikan jenis-jenis variabel segmentasi sebagai berikut:
1.Segmentasi Geografi
Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus dipasarkan.
2. Segmentasi Demografi
Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus ditawarkan. Jawaban atas pertanyaan kepada siapa dapat berkonotasi pada umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, kawin/ belum kawin, keluarga muda dengan satu anak, keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan
misalnya: Jawa, Madura, Bali, Manado, Cina dan sebagainya.
3. Segmentasi Psikografi
Pada segmentasi ini pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan:
a. Status sosial, misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite, golongan menengah, golongan rendah.
b. Gaya hidup misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan sebagainya.
c. Kepribadian, misalnya: penggemar, pecandu atau pemerhati suatu produk.
4. Segmentasi Tingkah Laku
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.

Menurut pendapat saya kita perlu memperhatikan banyak hal dalam melakukan segmentasi manfaat ini, selain harus mempelajari kelebihan dari segmentasi manfaat kita juga perlu mengetahui kelemahan-kelemahannya. Segmentasi manfaat ini sangat berguna apabila kita ingin membandingkan antara satu produk dengan produk lainnya.

Brikut ini adalah contoh dari segmentasi manfaat :


Segmen Manfaat

Demografis


Perilaku


Psikografis

1) Harga Terjangkau










Ø Deterjen

(650g~Rp.4.295)


Kalangan menengah kebawah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan deterjen yang banyak tetapi dengan harga yang terjangkau

Ø Pembersih Porselen

(800ml~Rp.5.695)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan pembersih porselen dengan kualitas baik namun dengan harga yang cukup terjangkau

Ø Pewangi Pakaian

(900ml~Rp.5.295)


Kalangan menengah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan yang harum tahan lama namun dengan harga yang cukup terjangkau

Ø Sabun Cuci Piring

(800ml~Rp.3.700)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan sabun cuci piring yang dengan sedikit penggunaan tetapi dapat mencuci banyak.

Ø Operator Seluler

(Kirim 10 sms gratis 10 sms)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang sangat membutuhkan telekomunikasi dengan mengedepankan tarif yang sangat murah

Ø Deodorant

(40ml~Rp.7.275)


Semua kalangan


Pengguna Berat


Orang dengan tingkat aktifitas yang sangat tinggi



Ø Sabun

(110g~Rp.1.150)


Kalangan menengah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan perawatan tubuh dengan harga yang terjangkau

Ø Shampo

(200ml~Rp.9.975)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Ringan


Orang yang membutuhkan perawatan rambut dengan harga yang terjangkau

Ø Pasta Gigi

(190g~Rp.6.995)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Ringan


Orang yang membutuhkan perawatan gigi dengan harga yang terjangkau

Ø Minyak Wangi

(150ml~Rp.10.125)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan kesegaran tubuh yang tahan lama namun dengan harga yang terjangkau

2) Medis












Ø Obat Sakit Kepala

(Meredakan sakit kepala dengan cepat)


Semua kalangan


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan kesehatannya

Ø Suplemen Vitamin

(Mengandung banyak vitamin C yang sangat baik untuk tubuh)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan kesehatan tubuhnya

Ø Minuman Kesehatan

(Menghilangkan bakteri yang merugikan dalam tubuh)




Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan kesehatan tubuhnya

Ø Obat Maag

(Meredakan sakit maag dengan cepat dan seketika)


Kalangan menengah


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan sakit maagnya

Ø Obat Diare

(Melancarkan buang air besar secara teratur)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan keshatan pencernaannya



Ø Obat Sariawan

(Menghilangkan dan mengobati sariawan tanpa menimbulkan rasa perih)


Kalangan menengah


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan dan ingin mengobati sariawannya

Ø Teh Kesehatan

(Menjaga dan memperkuat daya tahan tubuh)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang mencemaskan kesehatan tubuhnya

Ø Susu Bayi

(Dengan DHA yang memberikan banyak gizi untuk bayi)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang mencemaskan kesehatan bayinya

Ø Obat Batuk

(Meredakan batuk berdahak dan melegakan tenggorokan)


Semua kalangan


Pengguna Ringan


Orang yang ingin menyembuhkan penyakit batuknya

Ø Permen Pelega Tenggorokan

(Melegakan dan menyegarkan tenggorokan)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan kesehatan tenggorokannya

3) Kosmetik












Ø Krim Pencerah Kulit

(Mencerahkan dan memberikan banyak vitamin untuk kesehatan kulit)




Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang mencemaskan kesehatan kulitnya

Ø Perona Bibir

(Memperindah warna bibir)






Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang ingin memperindah warna bibirnya

Ø Bedak

(Mencerahkan kulit pada wajah)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Berat


Orang yang ingin mencerahkan warna kulit wajahnya

Ø Minyak Rambut

(Membantu menguatkan dan merawat rambut dan menjadikan mudah ditata)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang memperindah tatanan rambutnya

Ø Pelembab

(Melembabkan dan menghaluskan kulit)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan kesehatan kulitnya

Ø Minyak Wangi

(Memberikan wangi yang segar dan tahan lama bagi tubuh)


Kalangan menengah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan kesegaran untuk tubuhnya

Ø Pensil Alis

(Memberikan warna yang alami pada alis)


Kalangan menengah


Pengguna Ringan


Orang yang ingin memperindah warna alisnya

Ø Krim Penghilang Kerut Pada Wajah

(Membantu menghilangkan kerut dan mencegah penuaan dini pada wajah)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan kesehatan kulit wajahnya

Ø Krim Penghilang Noda Bekas Jerawat

(Menghilangkan noda bekas jerawat tanpa bekas dan menghaluskan kulit wajah)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan kesehatan kulit wajahnya

Ø Krim Pengangkat Komedo

(Mengangkat komedo pada wajah dan memberikan banyak vitamin yang bermanfaat bagi wajah)




Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Ringan


Orang yang mencemaskan kesehatan kulit wajahnya

4) Barang Elektronik












Ø Televisi

(Layar datar, warna sangat jelas dan tajam.


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan hiburan

Ø Radio Cassete

(Memiliki banyak fungsi, seperti dapat untuk memutar VCD,CD,MP3,dan DVD)




Kalangan menengah


Pengguna Ringan


Orang yang membutuhkan hiburan

Ø Telepon Rumah

(Suara yang diterima dan dihasilkan sangat jernih dan juga tersedia memori telepon)


Semua Kalangan


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan telekomunikasi dengan kualitas yang sangat baik

Ø Walkman

(Selain untuk mendengarkan kaset dapat juga untuk mendengarkan radio AM/FM dengan suara yang sangat jernih dan jelas)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Ringan


Orang yang membutuhkan hiburan

Ø Kamera Digital

(Dengan 7,2 megapixel dapat menghasilkan gambar yang sangat fokus dan jelas)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Ringan


Orang yang membutuhkan hasil foto yang sangat baik dan berkualitas

Ø Telepon Genggam

(Bentuk yang elegan dan sangat tipis sehingga sangat mudah untuk dibawa)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan telekomunikasi dengan kualitas yang sangat baik

Ø Laptop

(Memiliki banyak fungsi dan dengan bentuknya yang kecil sehingga memudahkan untuk dibawa)






Kalangan menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang dengan tingkat pekerjaan yang tinggi

Ø DVD Player

(Memiliki banyak fungsi seperti dapat untuk memutar VCD,CD,MP3,dan karaoke)


Kalangan menengah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan hiburan

Ø Kipas Angin

(Dapat diatur ketinggiannya dan juga putaran kipasnya yang kencang)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan kenyamanan dan kesejukan





Ø Mp3 Player

(Dengan bentuknya yang sangat kecil tetapi dapat memuat ribuan lagu dengan kapasitas 5 mb)


Kalangan menengah


Pengguna Ringan


Orang yang membutuhkan hiburan

5) Peralatan Rumah Tangga












Ø Panci

(Anti lengket, matang yang merata pada makanan, dan sangat mudah pada saat dibersihkan)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan kemudahan dalam memasak

Ø Teko

(Panas tahan lama)


Kalangan menengah & menengah kebawah


Pengguna Ringan


Orang yang membutuhkan air panas untuk jangka waktu yang tidak sebentar

Ø Sapu

(Memiliki pegangan yang sangat kuat dan juga bulu-bulu sapu yang banyak sehingga dapat mengangkat kotoran dengan maksimal)


Kalangan menengah


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan kenyamanan dan kebersihan

Ø Lemari Baju

(Sangat besar dan luas sehingga dapat memuat baju yang banyak)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Ringan


Orang yang membutuhkan tempat yang luas untuk menyimpan pakaiannya

Ø Seterika

(Mengeluarkan uap sehingga pakaian dapat sangat halus)




Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan kenyamanan kehalusan pakaiannya

Ø Tempat Tidur

(Empuk dan sangat nyaman sehingga dapat tidur dengan nyenyak)








Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang sangat membutuhkan kenyamanan

Ø Kompor

(Dengan api biru yang merata sehingga masakan dapat

matang dengan merata)




Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan kemudahan dalam memasak

Ø Rice Cooker

(Hanya butuh waktu sebentar untuk memasak nasi)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan kemudahan dalam memasak

Ø Microwave

(Dapat memanaskan makanan tanpa perlu membuang waktu yang lama)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Ringan


Orang yang membutuhkan kemudahan dalam memasak

Ø Mesin Cuci

(Dapat mencuci pakaian dengan sangat optimal dan juga mengeringkan pakaian)


Kalangan menengah & menengah keatas


Pengguna Berat


Orang yang membutuhkan kemudahan mencuci pakaian









Pustaka :

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/segmentasi-pasar-definisi-manfaat-dan.html

http://www.google.co.id/#hl=id&q=segmentasi+manfaat&meta=&aq=f&oq=segmentasi+manfaat&fp=19092503560bfe6e